Skandal PDAM Batola Diselidiki! Dana Hibah Puluhan Miliar Menguap, Warga Sudah 20 Tahun “Minum Air Keruh”

Marabahan – Aroma busuk dugaan korupsi di tubuh PDAM Barito Kuala (Batola) akhirnya mulai terkuak. Kejaksaan Negeri (Kejari) Batola kini tengah melakukan penyelidikan serius terkait pengelolaan dana hibah puluhan miliar rupiah yang digelontorkan dari APBD Provinsi Kalimantan Selatan dan Pemkab Batola.

Di kutip dari Tiktok @RepublikIndonesiaI.info berdasarkan hasil audit internal, PDAM Batola justru tak mampu menghasilkan laba meski telah diguyur dana besar dari pemerintah. Kondisi ini memicu kecurigaan adanya penyimpangan serius dalam pengelolaan keuangan perusahaan daerah tersebut.

Tak hanya itu, sorotan tajam juga mengarah pada jajaran pejabat lama hingga aktif di PDAM Batola. Dari penelusuran data LHKPN, tidak ditemukan laporan harta kekayaan milik mantan Direktur Utama PDAM Batola, Nazmi, yang diketahui menjabat lebih dari 25 tahun. Padahal, ia diduga memiliki berbagai aset bernilai fantastis, mulai dari rumah mewah di Batola, Banjarbaru hingga Malang, serta usaha kolam renang dan pengolahan air minum yang diduga berkaitan dengan fasilitas PDAM.

Nama lain yang ikut terseret dalam pusaran kasus ini adalah Sumardi, mantan pejabat Batola yang disebut-sebut memiliki aset di Jakarta dan diduga mengetahui alur dana hibah tersebut. Kemudian ada Iswahyudi (Kepala Teknik) dan Saruji, yang disebut memiliki hubungan kekerabatan dan diduga terlibat praktik kolusi, termasuk dalam pembayaran miliaran rupiah dari developer perumahan di kawasan Alalak untuk proyek pipanisasi.

Selain itu, nama Herman disebut mengetahui alur dugaan korupsi, sementara Sadono yang telah pensiun justru diaktifkan kembali, diduga untuk menutupi jejak penyimpangan.

Masyarakat pun mendesak Kejari Batola untuk tidak setengah hati dalam mengusut kasus ini. Bahkan, warga berharap penyidik juga menerapkan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), mengingat kuatnya dugaan bahwa PDAM telah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

Di tengah mencuatnya kasus ini, keluhan warga terkait buruknya pelayanan PDAM Batola kembali mencuat. Salah satunya disampaikan H. Sugiannor, warga Handil Bakti.

“Sejak tahun 2006 sampai 2026, air PDAM Batola tidak pernah bersih. Selalu keruh, hidup mati. Jangankan diminum, buat cuci pakaian saja tidak layak,” keluhnya saat dikonfirmasi, Rabu (8/4/2026).

Pria yang akrab disapa Abah Sugi itu mengaku sudah 20 tahun tinggal di kawasan tersebut dan bahkan telah empat kali pindah rumah, namun kualitas air tetap tidak berubah.

“Sudah dua puluh tahun kami rasakan. Mau pindah ke mana pun, tetap saja airnya keruh dan sering mati,” tegasnya.

Ia pun mendukung penuh langkah Kejari Batola yang mulai mengusut kasus ini. Menurutnya, sudah saatnya dugaan praktik korupsi di PDAM dibongkar hingga ke akar-akarnya.

“Kami senang Kejari mulai bergerak. Jangan sampai ada aktor yang lolos. Kami warga akan terus pantau perkembangan kasus ini,” tandasnya.

Kini publik menunggu langkah tegas aparat penegak hukum. Akankah skandal ini berujung pada penetapan tersangka dan pengungkapan jaringan korupsi yang selama ini diduga menggerogoti PDAM Batola? Waktu yang akan menjawab. ( Redaksi K24 )

Lebih baru Lebih lama