PT Borneo Indobara Pelopori Elektrifikasi Alat Berat, Menuju Green Mining dan Zero Emission


BATU LICIN – PT Borneo Indobara (BIB) resmi memulai langkah besar dalam transformasi industri pertambangan nasional dengan menginisiasi program elektrifikasi alat berat. Inovasi ini menandai pergeseran paradigma pertambangan yang selama ini identik dengan konsumsi bahan bakar fosil menuju penggunaan energi listrik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dikutip dari kakinews.id, launching program elektrifikasi tersebut dihadiri jajaran manajemen PT BIB, di antaranya COO PT BIB Raden Utoro dan CEO PT BIB Bonifasius, para mitra kontraktor, perwakilan Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Selatan, BMKG, PT PLN Kalselteng, serta para kepala desa di sekitar wilayah operasional tambang PT BIB.

Dalam kesempatan itu, PT BIB sekaligus mendeklarasikan komitmen transformasi perusahaan sebagai langkah strategis agar tetap relevan, kokoh, dan berkelanjutan di tengah perubahan global yang semakin cepat dan kompleks. Transformasi ini mengusung visi besar “Sustainable Green Mining, Illuminating the World.”

“Kita hidup di era krisis multidimensi, khususnya krisis lingkungan. Karena itu, sejalan dengan program pemerintah dalam menurunkan emisi karbon dan meningkatkan efisiensi energi di sektor pertambangan, PT BIB harus mencari solusi yang tepat. Elektrifikasi adalah sebuah keharusan dalam mendukung operasional pertambangan,” tegas Riadi Es Penem.

Sementara itu, COO PT Borneo Indobara Raden Utoro menjelaskan bahwa program elektrifikasi akan diterapkan secara masif dan bertahap, mencakup penggunaan alat tambang listrik dan hybrid. Ia menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan yang pertama di industri pertambangan Indonesia.

“Target kami pada 2026, penggunaan alat tambang listrik mencapai 25 persen dari total armada. Dalam dua tahun berikutnya, minimal 75 persen armada akan terealisasi, dengan sebagian transisi menggunakan peralatan hybrid sebelum sepenuhnya beralih ke listrik,” ungkapnya.

Untuk menopang program tersebut, PT BIB menggandeng PT PLN dalam pembangunan jaringan transmisi, distribusi, gardu induk PLN, serta gardu induk internal PT BIB. Dengan infrastruktur kelistrikan yang memadai, PT BIB menargetkan zero emission pada 2028–2029.

Elektrifikasi dinilai menjadi strategi utama perusahaan tambang dalam menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Hal ini juga ditegaskan Kepala Teknik Tambang (KTT) PT BIB saat acara Launching Penggunaan Peralatan Tambang Berbasis Listrik, Senin (9/2/2026), yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-20 PT Borneo Indobara.

Dalam pemaparannya, Raden Utoro turut mengungkap fakta ketergantungan nasional terhadap BBM impor. Kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen, sehingga sisanya harus diimpor dengan nilai mencapai Rp520 triliun per tahun.

“Sebelum elektrifikasi, PT BIB menghabiskan sekitar Rp7 triliun per tahun untuk BBM. Produksi batubara nasional sendiri menyerap BBM sekitar Rp140 triliun, bagian dari total impor BBM. Dalam 10 tahun terakhir, biaya BBM naik lebih dari 300 persen. Dengan kondisi ini, elektrifikasi bukan pilihan, tapi keharusan,” tegasnya.

Menurutnya, komitmen PT BIB menuju energi yang lebih bersih tidak hanya mendukung agenda green mining, tetapi juga berkontribusi langsung dalam mengurangi beban negara akibat impor BBM.

Rangkaian kegiatan launching semakin semarak dengan expo atau pameran alat berat, serta seremoni serah terima peralatan tambang hybrid sebagai masa transisi menuju penggunaan listrik penuh. Sejumlah alat tambang listrik juga diperkenalkan dan siap dioperasikan di wilayah pertambangan PT Borneo Indobara.

Langkah progresif PT BIB ini dinilai menjadi tonggak penting transformasi pertambangan nasional, sekaligus bukti bahwa industri tambang dapat berjalan seiring dengan komitmen lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Lebih baru Lebih lama