Masa Depan Demokrasi: Generasi Alfa sebagai Harapan Baru

Banjarmasin, Kalimantan24.com - Di sebuah ambin rumah alam yang asri, sekelompok masyarakat sipil berkumpul untuk mendiskusikan memburuknya situasi demokrasi di Indonesia. Pembicaraan yang dipenuhi keprihatinan ini mengupas berbagai faktor, terutama peran partai politik yang dianggap sebagai pihak paling bertanggung jawab. Muncul pertanyaan besar: apakah masyarakat sipil dengan kekuatan yang relatif kecil mampu memulihkan kondisi demokrasi yang semakin tidak sehat?

Winardi Sethiono, salah satu peserta diskusi, menyatakan keyakinannya bahwa generasi berikutnya, yakni Generasi Alfa, memiliki potensi untuk membawa perubahan. "Generasi berikutnya yang bisa memulihkan ini, mungkin generasi alfa," ujarnya. Generasi tersebut diperkirakan baru akan terlibat aktif dalam politik sekitar 15 tahun mendatang, atau setelah tiga kali pemilu. Menurutnya, waktu selama itu diperlukan untuk mencapai kesadaran bahwa situasi buruk ini harus segera diakhiri demi menghindari penguatan oligarki, dinasti politik, korupsi, dan bahkan praktik asusila.

Generasi Alfa, yang terdiri dari anak-anak Generasi Millenials dan adik dari Generasi Z, adalah kelompok yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025. Istilah ini pertama kali muncul pada tahun 2005 dari hasil survei oleh Mark McCrindle, seorang analis sosial dan demografi asal Australia.

Menunggu hingga tiga kali pemilu mungkin terasa lama, namun perubahan sangat bergantung pada upaya semua pihak. Jika kesadaran untuk memperbaiki situasi tidak segera muncul, proses ini bisa memakan waktu lebih lama. Sebaliknya, jika para elit politik menyadari urgensi situasi ini, perbaikan dapat dilakukan lebih cepat.

Namun, tantangan terbesar adalah kenyataan bahwa banyak elit politik saat ini terjebak dalam kenikmatan hidup berupa kekayaan, kesehatan, kekuasaan, dan kedudukan, yang sering kali disertai praktik korupsi dan asusila. Kondisi ini, yang disebut Prof Udiansyah sebagai istidraj atau jebakan kenikmatan hidup, membuat mereka dan pengikutnya lupa bahwa keadaan demokrasi semakin memburuk.

Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya kesadaran kolektif dan upaya bersama untuk memperbaiki situasi demokrasi yang kian memprihatinkan. Generasi Alfa diharapkan menjadi harapan baru yang mampu membawa perubahan positif di masa depan. 

Ambin Demokrasi
Noorholis Madjid 
Lebih baru Lebih lama