Banjarmasin, Kalimantan24.com - Banjarmasin Book Fair 2024 yang di adakan di taman Kamboja yang berlangsung selama sepuluh hari. Event yang digelar sejak 15 Juli hingga 24 Juli ini, dipenuhi berbagai aktivitas menarik mulai dari wahana permainan anak, beragam kuliner, hingga lomba-lomba yang memeriahkan suasana. Salah satu kegiatan yang paling ditunggu adalah bedah buku yang menampilkan karya-karya penulis lokal.
Pihak Event Organizer (EO) NOB Rent menyampaikan bahwa mereka telah berupaya menghubungi beberapa penerbit besar seperti Erlangga dan Rajawali Press, serta agen buku ternama Yusuf Agency. Namun, persiapan yang singkat membuat beberapa penerbit urung ikut serta. Meski demikian, Gramedia sebagai toko buku besar di Indonesia turut mendukung acara ini. Keterlibatan komunitas literasi Kampung Buku Banjarmasin juga menambah nuansa book fair pada acara tersebut.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Banjarmasin, M. Ehsan El Haq, menyatakan bahwa event ini murni diinisiasi oleh EO. "Dispersip sangat mendukung kegiatan ini dan turut mengisi dengan berbagai aktivitas seperti bedah buku, lomba hapalan Al-Quran, dongeng anak, dan lomba mewarnai. Kami berharap event ini dapat berlangsung rutin setiap tahun dengan semakin banyak penyedia buku dan komunitas literasi yang terlibat," ujarnya.
Hajriansyah, Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin yang juga mengelola Kampung Buku, menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan komunitasnya. "Kami sangat senang dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan. Antusiasme masyarakat dalam membeli buku dan mengikuti diskusi bedah buku cukup tinggi, bahkan penjualan buku melebihi ekspektasi awal kami," ungkapnya.
Selama sepuluh hari, lima kegiatan bedah buku dilaksanakan dengan menampilkan buku-buku karya penulis lokal seperti "Binar Semasa" (kumpulan cerpen siswa SMA 1 Banjarmasin), "Bahasa Bakumpai" (struktur dan identitas), "Sasirangan Kain" (kuno, kini, dan kena), "Adat Badamai" (interaksi hukum Islam dan hukum adat pada masyarakat Banjar), dan "Ragam Wafak di Kalimantan Selatan". Diskusi bedah buku tersebut melibatkan akademisi, budayawan, dan pegiat literasi.
Dalam diskusi bedah buku "Adat Badamai" yang diadakan pada 19 Juli, penulis Prof. Ahmadi Hasan menyoroti pentingnya kearifan lokal masyarakat Banjar seperti Baparbaik atau Badamai. "Kegiatan ini memberikan manfaat besar dengan menyosialisasikan pengetahuan yang biasanya hanya konsumsi akademis kepada masyarakat luas," tuturnya.
Banjarmasin Book Fair 2024 ditutup pada Minggu, 21 Juli dengan acara bedah buku "Ragam Wafak di Kalimantan Selatan", yang turut menarik minat banyak pengunjung. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak komunitas literasi dari dalam dan luar kota Banjarmasin. ( Nor Ana )